Please use this identifier to cite or link to this item:
https://ptsldigital.ukm.my/jspui/handle/123456789/777640
Title: | Tinjauan tentang berbagai situs megalitik di Indonesia |
Authors: | Haris Sukendar |
Conference Name: | Pertemuan Ilmiah Arkeologi |
Keywords: | Arkeologi Indonesia Tapak arkeologi Batu megalitik |
Conference Date: | 1980-02-25 |
Conference Location: | Jakarta, Indonesia |
Abstract: | Mulai abad ke-18 peninggalan megalitik telah menarik perhatian para sarjana karena bentuknya yang unik. Ketika itu para sarjana masih ada yang meragukan tentang bentuk peninggalan ini, bahkan beberapa di antara mereka ada yang mengatakan peninggalan megalitik sebagai peninggalan dari masa pengaruh kebudayaan Hindu. Hal ini dapat ditandai dengan munculnya artikel-artikel yang diterbitkan antara lain tentang megalitik di Pasemah. Tombrink dalam sebuah artikelnya menyebutkan bahwa peninggalan megalitik Pasemah adalah peninggalan Hindu, sehingga ia memberikan judul "Hindoe-monumenten in de bovenlanden van Palembang, "als bron van geschiedkundig onderzoek". Pada artikel itu ia membicarakan tentang peninggalan megalitik di Pasemah (Sumatra Selatan) yang dianggap sebagai peninggalan Hindu. Artikel yang lain adalah karya Westenenk dalam "De Hindoe-oudheden in de Pasemah hoogvlakte (Residentie Palembang) (Periksa : Tombrink 1872; Westenenk 1922 dan 1919). Penelitian peninggalan ini terus berkembang dari tahun ke tahun dengan Van der Hoop sebagai tokoh peneliti di bidang ini, yang mengadakan penelitian secara aktif dan berbagai artikelnya menghiasi lembaran-lembaran pada Tijdschrift Bataviaasch Genootschap tahun 1935 dan 1937 yaitu tentang peninggalan megalitik di Gunung Kidul dan Cirebon. Bahkan 3 tahun sebelumnya yaitu tahun 1932 ia telah selesai menyusun disertasinya tentang megalitik di Pasemah dengan deskripsi dan gambar-gambar serta foto yang sangat lengkap (Hoop 1932). Sejak tokoh-tokoh peneliti megalitik seperti Van der Hoop, Van Heekeren, Van Stein Callenfels dan lain-lain terjun di bidang penelitian megalitik, maka tidak pernah lagi terjadi keraguan tentang megalitik yang dianggap sebagai tinggalan pengaruh Hindu. Tradisi megalitik telah berkembang dalam kurun waktu yang sangat lama bahkan diperkirakan munculnya mulai masa neolitik (bercocok-tanam) (Hoop 1938). Van Eerde yang mengadakan kunjungan ke Pasemah tahun 1929 mulai meragukan kebenaran pendapat Tombrink dan Westenenk. Ia mengatakan bahwa peninggalan yang berupa patung-patung dan lain-lain ada hubungannya dengan tinggalan menhir dan dolmen. |
Pages: | 55-68 |
Call Number: | DS621.P47 1980 katsem |
URI: | https://ptsldigital.ukm.my/jspui/handle/123456789/777640 |
Appears in Collections: | Seminar Papers/ Proceedings / Kertas Kerja Seminar/ Prosiding |
Files in This Item:
There are no files associated with this item.
Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.